Mengenal Ki Ageng Selomanik

  • Makam Ki Ageng Selamanik yang ada di Kompleks TRMS

SELOMANIK atau Selamanik mungkin nama dan kata yang tidak begitu asing di telinga masyarakat Banjarnegara, namun tidak sedikit yang mengetahui siapa dan apa sebenarnya nama Selomanik tersebut.
Bagi Anda yang pernah berkunjung ke kebun binatang Taman Rekreasi Marga Satwa (TRMS) Serulingmas Banjarnegara, mungkin akan melihat sebuah bangunan makam di dalamnya. Letaknya tepat di sisi kiri jalan menuju kandang unta atau berdekatan dengan tembok batas kolam renang dan jembatan baru yang ada di dalam kompleks Serulingmas. Di bangunan tersebut jelas tertulis makam Ki Ageng Selamanik. Kondisi ini juga menyebabkan nama TRMS lebih dikenal dengan kebun binarang Selamanik.
Untuk mengungkap lebih dalam tentang sejarah makam Ki Ageng Selamanik, tim redaksi Majalah Pesantren Tanbihul Ghofiliin mencoba mengungkap sejarah dari Ki Ageng Selamanik di masa hidupnya.
Kompleks makam tersebut dirawat oleh Rudi Tamara yang merupakan juru kunci makam Ki Ageng Selamanik, dari beliaulah tim menoca mengorek sejarah akan Ki Ageng Selamanik.
Menurutnya, Ki Ageng Selamanik adalah seorang waliyullah yang pada masa hidupnya merupakan seorang pejuang. Beliau juga merupakan bagian dari ulama Banjarnegara dan penjuang agama Islam yang ikut melawan penjajah Belanda.
Rudi adalah juru kunci makam Ki Ageng Selamanik yang ke enam. Nama Serulingmas sendiri kata Rudi berawal dari ‘Seruan Eling Banyumas’ yang merupakan objek wisata kebun binatang di Banjarnegara, lebih dikenal dengan sebutan Selamanik karena kebun binatang tersebut dibangun di areal kompleks makam Ki Ageng Selamanik.
“Makam ini sudah ada sejak jauh sebelum ada kebun binatang, tepatnya pada tahun 1864,” katanya.
Dari catatan yang ada di juru kunci makam tersebut, nama Ki Ageng Selamanik adalah seorang panglima perang dan bagian dari pasukan Pangeran Diponegoro, bahkan saat tersiar kabar Pangeran Diponegoro tertangkap, dia menjadi orang yang dipilih untuk melanjutkan tugas memimpin pasukan demi melanjutkan perjuangan menolak dan melawan para kolonial yang melakukan kekerasan terhadap bangsa Indonesia.
Langkah perjuangan yang dilakukan oleh Ki Ageng Selamanik adalah dengan melakukan syiar islam sera menghimpun para pemuda yang dipersiapkan menjadi benteng pertahanan bangsa. Tekanan semakin berat, apalagi saat itu patih Danyreja yang merupakan utusan dari kerajaan Mataram justru memihak pada kompeni Belanda.
Perjalanan Ki Ageng Selamanik terus dilakukan, berbagai pemuda dari berbagai wilayah berhasil didik dan dipersiapkan, hingga perjalanan beliau singgah di Kutabanjarnegara. Upaya menghimpun pasukan yang dilakukan oleh Ki Ageng Selamanik ternyata didengar oleh Patih Danureja, melalui utusannya, Danureja mengajak Ki Ageng Selamanik untuk berhenti menghimpun pasukan, namun usaha tersebut ditolak mentah-mentah oleh Ki Ageng Selamanik, pertempuran terjadi, utusan Danureja kocar-kacir dan mundur dan melaporkan kejadian tersebut.
Penolakan ini membuat Danureja marah, bahkan dia langsung mengirimkan pasukan dengan jumlah yang lebih besar. Lagi-lagi, mereka berhasil ditaklukkan oleh pasukan yang dipimpin langsung oleh Ki Ageng Selamanik atau yang lebih tersohor dengan nama Ki Ageng Selo. Sadar akan ada serangan yang lebih besar, Ki Ageng Selo beserta pengikutnya berpindah ke Semarang, langkah ini dilakukan untuk mendapatkan bantuan dari Adipati Ranggajaya, tentunya atas saran dari Pangeran Diponegoro.
Upaya penggabungan pasukan Ki Ageng Selo dengan Pasukan Adipati Ranggajaya didengar oleh Danureja, hingga dia memerintahkan pasukannya untuk melakukan penyerangan. Tak hanya itu, dia juga meminta bala tentara dari Adipati Jepara untuk ikut melawan pasukan Ki Ageng Selo.
Banyaknya pasukan dari Danureja dan Adipati Jepara membuat pasukan Ranggajaya kocar kacir, bahkan banyak pasukan yang gugur, termasuk adipati Ranggajaya. Namun, Ki Ageng Selo bersama sebagian pasukan yang tersisa masih bisa menyelamatkan diri dengan meloloskan dari sergapan musuh ke arah kaku gunung Merbabu.
Di kaki gunung tersebut, pasukan Ki Ageng Selo bertemu dengan Ki Buyut dan menceritakan peperangan yang baru terjadi. Tanpa pikir panjang, Ki Buyut langsung memerintahkan Surantani putra sulungnya untuk menemani Ki Ageng Selo melanjutkan perjalanan.
Dilain pihak, Adipati Jepara yang mulai frustasi mencari Ki Ageng Selo menggelar sayembara untuk menangkap Ki Wasesa (nama lain Ki Ageng Selo) dengan hadiah jabatan sebagai Adipati Semarang. Sayembara ini didengar oleh Jugil Awar putra Ki Ageng Mangkukuhan Kedu yang pernah melakukan pertapaan bersama Ki Ageng Selo di Gunung Sumbing.
Perburuan terhadap Ki Ageng Selo terus dilakukan, namun upaya untuk menangkap dan membinasakan pasukannya selalu gagal. Perjalanan panjangpun terus dilakukan Ki Ageng Selo bersama pasukannya. Pasukan ini juga sempat singgah di berbagai tempat, seperti di kendiaman Demang Wonokerto, Demang Singamerta, Singa Taruna (Putra Demang Singa Merta) dan Ki Ageng Parak.
Menariknya ketika singgah di kediaman Ki Ageng Parak, mereka berdua berbincang membicarakan apa yang terjadi di Pulau Jawa di masa mendatang. Mengutip kisah yang di tulis oleh Suwarso SM. Disetiap pengembaraanya, Ki Ageng Selo selalu memberikan perbekalan kepada jajaran pemuda, termasuk ikut memberikan nama pada desa yang disinggahi sesuai dengan kejadian saat itu.
Seperti halnya ketika ia menjumpai tempat yang dihuni oleh orang-orang pembuat gula jawa pada waktu malam purnama, yang ia beri nama Desa Sumber Wulan dan desa-desa lain seperti Kledung, Kaliwiro, Krasak, Selakrama (wilayah Wonosobo), Leksana, Sawangan, Tunggorono, Tekidadi, Kemiri, Wanacipta dan Kutawaringin.
Sebuah bukti perjuangannya beserta robongannya mereka sempat memberikan sebuah Kabupaten di Gunung Lawang (daerah Kaliwiro) dengan nama Kabupaten Selomanik yang menjadi Bupati Ki Ageng Selo sendiri dan Ki Buta Wereng (putra Ki Demang) sebagai penasihatnya.
Lagi-lagi tempat persembunyiannya diketahui Jugil Awar-Awar yang menjadikan mereka berhijrah melewati bukit-bukit dan hutan yang sangat terjal. Untuk menjernihkan hati dan pikiran, Ki Wasesa berhenti untuk bersemedi di bukit-bukit tersebut. Sampai akhirnya tibalah mereka di Desa Kutawaringin. Disana terjadi pertempuran yang dahsyat. Kedua putra Ki Ageng Selo dan Surantani mati-matian mempertahankan Kutawaringin. Akan tetapi malang tidak dapat ditolak, Raden Waringin dan Raden Anom (kedua putra Ki Ageng Selo) gugur di medan perang.
Gugurnya putra Ki Ageng Selo justru menjadikan Surantani semakin bersemangat untuk menghabisi musuh-musuhnya. Target awal adalah Jagir Awar-awar, karena dialah yang menjadi penyebab gugurnya kedua anak Ki Ageng Selo. Semangat perjuangan Surantani akhirnya berhasil mengalahkan Jugil dan bala pasukan yang sengaja dikirim oleh Adipati Jepara.
Usai kejadian tersebut, Ki Ageng Selo melakukan penyusuran sungai dan berhenti di satu tempat yang kini menjadi nama Kutabanjarnegara. Di tempat itulah Ki Ageng Selo melakukan semedi. Saat melakukan persemedian, pasukan Jepara mengepung lokasi tersebut, namun saat akan dilakukan penangkapan, raga dari Ki Ageng Selo menghilang dan hanya menyisakan pakaian serta tongkat yang biasa beliau kenakan.
“Tempat tersebut menjadi makam Ki Ageng Selo, karena hingga saat ini, jasad beliau tidak diketaui, hanya beberapa benda yang beliau kenakan seperti jubah, ikat kepala, sandal, dan tongkat saat akan dilakukan penangkapan,” kata Rudi.
Dapat disimpulkan, perjuangan Ki Ageng Selamanik adalah seorang pejuang islam yang ikut memperjuangkan bangsa dan mengusir penjajah Belanda, bahkan dia harus hidup berpindah-pindah demi mengelabuhi musuh serta melawan kolonial. (min)

Facebook Comments

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.