Dikembangan Setelah Puluhan Tahun Lenyap


Seni Musik Tradisional Gumbeng
BANJARNEGARA,BBN-Menghidupkan seni tradisional yang sudah punah bukanlah perkara mudah, namun sekelompok anak muda di Desa Pagak, Kecamatan Purwareja Klampok ini justru menganggap ini sebagai sebuah tantangan.
Mereka menghidupkan kembali musik gumbeng sebagai kesenian tradisional yang telah puluhan tahun hilang lantaran tidak dimainkan oleh generasi penerus. Warga mulai menggali satu persatu karya adiluhung nenek moyang yang sempat lenyap terlindas zaman.
“Kami berpikir apa yang bisa kami lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Pagak, satu cara yang dilakukan adalah dengan menjadikan Desa Pagak sebagai desa wisata,” kata Kepala Desa Pagak Sudarwo.
Sebagai daya tarik, selain berbagai keindahan alam dan mandi lumpur di desa kitiran, dia menghadirkan musik gumbeng sebagai pendukung. Musik tradisional ini sudah puluhan tahun menghilang. Untungnya, sejumlah orang tua di desa Pagak masih mengingat bagaimana orang tua mereka dulu mengajarinya membuat alat musik Gumbeng.
Dia masih mengingat betul saat bersama kawan-kawannya yang kala itu masih bocah suka memainkan alat musik itu di sawah sembari bermain. Gumbeng bukan sekadar media hiburan masyarakat desa. Kesenian itu lekat dengan kebudayaan masyarakat agraris.
Menurutnya, pada zamannya, para petani memainkannya sebagai bagian dari prosesi ritual. Tradisi itu dihayati sebagai pengejawantahan rasa syukur terhadap Yang Maha Kuasa atas kelimpahan hasil panen. Masyarakat kuno apalagi masih mempercayai Dewi Padi atau biasa disebut Dewi Sri.
Gumbeng diyakini sebagai ritus untuk mengiringi atau mengarak Dewi Sri menuju Kayangan. Karena itu, kesenian tersebut biasa dimainkan bersama saat menjelang bercocok tanam dan sehabis panen raya padi.
Ada doa yang mengiring dalam ritual itu agar mereka berhasil menanam padi hingga panen tanpa hambatan.
“Gumbeng dimainkan saat upacara, baik yang berhubungan dengan pertanian, permintaan hujan atau upacara tolak bala,” katanya.
Saat ini, kami mencoba menghidupkan kembali sebagai hiburan bagi wisatawan. Butuh teknik khusus untuk menciptakan alat musik itu sehingga bisa menghasilkan nada terbaik. Bambu kering yang telah dipotong kemudian dibeset menggunakan alat bantu pisau, golok, dan tatah hingga membentuk dawai.
Tidak hanya itu, saat ini dia bersama masyarakat di desanya sepakat bahwa kesenian tradisional ini patut dilestarikan oleh generasi penerus karena digali dari falsafah lokal yang sesuai dengan kepribadian bangsa. (oel)

Facebook Comments

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.